Lalu pertanyaannya, teman paling setia dalam hal apakah iblis menemani bani adam? Tentu dengan keyakinan yang walau terasa samar-samar didalam hati seseorang pasti mengatakan bahwa iblis menemani bani adam dalam kemungkaran.
seperti dalam Firman Allah SWT dalam Al-Quran :
" Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari JALAN-MU YANG LURUS." ( QS Al-A’Raf : 16)
"Kemudian
aku pasti akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan
dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati mereka bersyukur." ( QS Al-A’Raf : 17)
Dengan ini sudah jelas bahwa iblis memang akan menjadi sahabat paling setia kita dalam perbuatan yang menyimpang dari ajaran yang telah ditetapkan Allah SWT kepada utusan-Nya yang paling mulia, Rasullah SAW.
Mau kita sanggah dalam bentuk apapun, dalam teori ilmu apapun jika itu sudah menjadi takdirnya bahwa dialah iblis laknatullah sudah berjanji dan Allah SWT meng-iya-kan janji iblis, sungguh hanya kepada siapa lagi kita harus berlindung?
Kita akan mencoba untuk merenungkan dalam kejadian keseharian manusia, karena ilmu manusia yang diagung-agungkan, disombong-sombongkan jika membahas tentang keilmuan yang dimiliki Allah SWT maka sampai besar berubah kecil, kecil berubah lebar, lebar berubah gelap dan gelap berubah menjadi melebur sungguh tak akan bisa otak manusia yang hanya berat beberapa kilogram bisa mengimani ilmu-nya Allah. Sedangkan hanya dengan iman, keyakinan yang tertanam di hati kecil dan pribadi manusia walau hanya sebesar biji zarah (butiran debu) InsyaAllah, ilmu-nya Allah itu sungguh menakjubkan. Maha Suci Allah. Allahuakbar!
Ibarat ada dua orang siswa laki-laki kita sebut dia Malik dan Syitan. Mereka mempunyai guru yang sangat baik. Suatu ketika sang guru mengumpulkan mereka, sang guru ini bersama seorang anak laki-laki yang mungkin lebih muda beberapa tahun darinya. Guru ini mengatakan pada kedua muridnya.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam, wahai guruku!"
"Perkenalkan ini Abdul, Abdul perkenalkan dia Malik dan Syitan."
"Assalamu'alaikum!" Sapa Abdul pada Malik dan Syitan.
"Oke Abdul karena kamu murid baru disini maka kamu bapak beri kepercayaan untuk memimpin di kelas kecil kita ini. Bagaimana Malik dan Syitan setuju?" Tanya Sang Guru ini pada kedua muridnya.
Malik dengan bijak berkata, "Wahai guruku, sungguh aku akan tetap setuju dengan keputusanmu sungguh engkau mempunyai maksud yang mungkin aku tidak mengetahuinya."
Sedang tiba-tiba si Syitan berdiri dan berkata dengan keras. "Tidak! Saya tidak setuju! Kenapa Bapak memberi kepercayaan kepada murid baru? Sedangkan saya sudah lama bersama bapak?"
"Engkau tidak mengetahui apa yang aku maksud dan sungguh perkataanmu bagai seorang manusia yang tidak punya sopan santun maka aku lebih memilih mengeluarkanmu karena perkataan dan keeogisanmu!" Kata guru itu.
Sambil berjalan keluar dan emosi yang memuncak Syitan berkata pada gurunya. "Sungguh guru! Jika itu yang kamu mau? Kamu lebih melindungi Abdul anak yang baru masuk itu sedangkan aku yang sudah bertahun-tahun denganmu engkau hina dan usir? Sungguh aku tidak akan pernah membuatnya aman dan dia harus bersiap-siap mati karena itu."
Apa yang guru itu katakan. "Lakukanlah apa yang kamu bisa. Tapi dia tidak akan bisa engkau sentuh saat dia bersama ku dan dia tidak bisa engkau sentuh saat dia berada didekatkan."
to be continued...